Selasa, 10 November 2020

Perbedaan Pasar Uang Dan Pasar Modal


Perbedaan Pasar Uang dan Pasar Modal #materi06

Pasar uang dan pasar modal itu tentu saja berbeda. Tapi apa sih sebenarnya perbedaannya? Agar dapat memahami perbedaan pasar uang dan pasar modal, maka kita perlu membahas lebih jauh mengenai keduanya. 
Kita akan bahas mulai dari pengertian pasar uang dan pasar modal, sampai pada perbedaan-perbedaan yang terdapat pada pasar uang dan pasar modal.  

Agar nantinya kita juga dapat memutuskan akan memilih berinvestasi di pasar uang atau di pasar modal. 
Yuk kita simak pembahasan ini sampai akhir. 

Sebelum kita masuk ke bagian perbedaan pasar uang dan pasar modal, ada baiknya kita bahas sekilas mengenai pengertian dari keduanya. 

Pasar uang atau money market adalah suatu wadah bertemunya para pemilik dana dengan pihak yang membutuhkan dana dimana terjadi permintaan dan penawaran dana-dana yang terwujud dalam sekumpulan surat berharga yang memiliki jangka waktu kurang dari setahun.


Sedangkan pasar modal atau bursa efek adalah tempat bertemunya antara pihak yang menawarkan dana dan pihak yang memerlukan dana jangka panjang. Dana jangka panjang tersebut adalah obligasi, saham, dan surat berharga lainnya.
Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami perbedaan yang paling mendasar dari keduanya terletak pada jangka waktu dan instrumen yang diperjualbelikan.


Adapun perbedaan dari pasar uang dengan pasar modal yaitu 

1. Perbedaan berdasarkan jangka waktu

Dana-dana dan surat-surat berharga yang diperjual belikan dalam pasar uang adalah jangka pendek yaitu kurang dari satu tahun. Adapun jangka waktu untuk jual beli dana-dana,  obligasi, saham dan surat berharga lain pada pasar modal adalah jangka waktu yang lama, yaitu lebih dari satu tahun.

2. Perbedaan berdasarkan tempat

Pasar modal memeliki tempat yang sangat luas. Di indonesia kini terdapat dua pasar modal yaitu bursa Efek Jakarta dan bursa Efek Surabaya. Sedangkan untuk Pasar Uang tidak memiliki transaksi khusus dan transaksi yang ada di lakukan dengan menggunakan alat komunikasi.

3. Perbedaan berdasarkan otoritas

Otoritas tertinggi Pasar Uang adalah BI. Sedangkan otoritas tertinggi untuk Pasar Modal adalah Departemen Keuangan. 

4. Perbedaan berdasarkan tempat transaksi

Tempat terjadinya Pasar Modal ini di Bursa Efek. Sedangkan di Pasar Uang terjadi di antara Bank.

5. Perbedaan berdasarkan resiko

Pasar Uang dan Pasar Modal ini memiliki resiko masing-masing. Pasar Uang memiliki resiko rendah dan dengan return yang rendah, sedangkan untuk Pasar Modal memiliki resiko tinggi dengan return yang tinggi. 

6. Perbedaan berdasarkan pelaku pasar 

Ditinjau dari para pelaku atau pemainnya, pasar modal cenderung melibatkan lebih banyak pihak dibandingkan pasar uang. Para pemain pasar modal terdiri dari perusahaan penerbit saham (emiten), investor, penjamin emisi, lembaga penunjang, pialang (broker), pedagang efek (dealer), penanggung (guarantor), wali amanat (trustee), perusahaan surat berharga (securities company), dan perusahaan pengelola dana (investment company).

Sementara para pemain di pasar uang umumnya meliputi bank, yayasan, perusahaan asuransi, lembaga pemerintah, lembaga keuangan non-bank, dan perseorangan atau anggota masyarakat.


Pasar Uang Dan Saluran Transmisi Kebijakan Moneter Karakteristik Pasar Uang

 

Pasar Uang dan Saluran Transmisi Kebijakan Moneter Karakteristik Pasar Uang #materi05

Mekanisme transmisi moneter dimulai sejak otoritas moneter atau bank sentral bertindak menggunakan instrumen moneter dalam implementasi kebijakan moneternya sampai terlihat pengaruhnya terhadap aktivitas perekonomian, baik secara langsung maupun secara bertahap.

Pengaruh tindakan otoritas moneter terhadap aktivitas pereko­nomian ini terjadi melalui berbagai saluran atau channels, yaitu saluran uang atau langsung, saluran suku bunga, saluran kredit, saluran nilai tukar, saluran harga aset, dan saluran ekspektasi. Di bidang keuangan, kebijakan moneter berpengaruh terhadap perkembangan suku bunga, nilai tukar, dan harga saham di samping volume dana masyarakat yang disimpan di bank, kredit yang disalurkan bank kepada dunia usaha, penanaman dana pada obligasi dan saham. Sementara itu, di sektor riil, kebijakan moneter selanjutnya memengaruhi kegiatan konsumsi, investasi dan produksi, ekspor dan impor, serta harga-­harga barang dan jasa pada umumnya.


Sejalan dengan perubahan struktur perekonomian dan perkembangan yang cukup pesat di bidang keuangan, terdapat lima saluran atau channels mekanisme transmisi kebijakan moneter yang sudah sering dikemukakan dalam teori moneter dewasa ini (Mishkin: 1995, 1996; Kakes: 2000, De Bondt: 2000; Bofinger: 2001). Kelima saluran tersebut meliputi saluran moneter langsung (direct monetary channel), saluran suku bunga (interest rate channel), saluran harga aset (asset price channel), saluran kredit (credit channel) dan ekspektasi (expectation channel).

 

1.     Saluran Langsung

Transmisi kebijakan moneter melalui saluran langsung atau saluran uang (money channel) mengacu pada teori klasik mengenai peranan uang dalam perekonomian, yang pertama kali dijelaskan dalam Teori Kuantitas Uang atau Quantity Theory of Money (Fisher: 1911). Pada dasarnya teori ini menggambarkan kerangka yang jelas mengenai analisis hubungan langsung antara uang beredar dan harga.

Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran uang dimulai dengan tindakan bank sentral memengaruhi uang primer sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Kemu­dian, perubahan uang primer ini, dengan proses penggandaan uang, ditransmisikan ke uang beredar untuk memenuhi permintaan masyarakat. Pada gilirannya perubahan jumlah uang beredar dalam masyarakat akan memengaruhi berbagai kegiatan ekonomi, khususnya inflasi dan output riil.

2.     Saluran Suku Bunga

Berbeda dengan saluran langsung yang menekankan aspek kuantitas proses perputaran uang dalam perekonomian, saluran suku bunga lebih menekankan pentingnya aspek harga di pasar keuangan terhadap berbagai aktivitas ekonomi di sektor riil. Dalam kaitan ini, kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral akan berpengaruh terhadap perkembangan berbagai suku bunga di sektor keuangan dan selanjutnya akan berpengaruh pada tingkat inflasi dan output riil. Bagaimana mekanismenya? Tahap pertama, operasi moneter bank sentral akan memengaruhi suku bunga jangka pendek, seperti suku bunga SBI dan suku bunga pasar uang antarbank (PUAB). Selanjutnya perubahan ini akan memberikan pengaruh pada suku bunga deposito yang ditawarkan bank ke masyarakat penabung dan pada suku bunga kredit yang dibebankan bank kepada para debiturnya. Proses perubahan suku bunga bank ke masyarakat pada umumnya tidak berlangsung segera, tetapi ada tenggang waktu, terutama karena kondisi internal bank dalam pengelolaan aset dan kewajibannya.

Pada tahap berikutnya, transmisi suku bunga dari sektor keuangan ke sektor riil akan tergantung pada pengaruhnya terhadap per­mintaan konsumsi dan investasi. Pengaruh suku bunga terhadap konsumsi berkaitan erat dengan peranan bunga sebagai komponen pendapatan masyarakat dari deposito (income effect) dan bunga kredit sebagai sumber pembiayaan konsumsi (substitution effect). Sementara itu, pengaruh suku bunga terhadap investasi terjadi karena bunga kredit merupakan komponen biaya modal (cost of capital), di samping yield obligasi dan dividen saham. Pengaruh perubahan suku bunga terhadap investasi dan konsumsi selanjutnya akan berdampak pada permintaan agregat yang pada gilirannya akan menentukan tingkat inflasi dan output riil.

3.     Saluran Kredit

Selain faktor suku bunga, perilaku penawaran kredit perbankan juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi internal perbankan itu sendiri seperti tercermin pada permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR), jumlah kredit macet atau Non-Performing Loans (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Selain itu, tidak semua permintaan kredit debitur dapat dipenuhi oleh bank-bank, khususnya karena kondisi dan prospek keuangan debitur yang dinilai oleh bank tidak layak, antara lain karena tingginya rasio utang terhadap modal (leverage), risiko kredit macet, moral hazard, dan sebagainya. Adanya informasi yang tidak simetris (assymetric information) antara bank dan debitur seperti ini dapat menyebabkan pasar kredit tidak selalu berada dalam keseimbangan.

Pendekatan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran kredit didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua simpanan masyarakat dalam bentuk uang disalurkan oleh perbankan ke masyarakat dalam bentuk kredit. Dengan kata lain, fungsi intermediasi perbankan tidak selalu berjalan sempurna, dalam arti bahwa kenaikan simpanan masyarakat tidak selalu diikuti dengan kenaikan secara proporsional kredit yang disalurkan ke masyarakat. Yang lebih berpengaruh terhadap ekonomi riil adalah kredit per­bankan, bukan simpanan masyarakat.

4.     Saluran Nilai Tukar

Pendekatan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran nilai tukar, sama seperti saluran suku bunga, menekankan pentingnya aspek perubahan harga aset finansial terhadap berbagai aktivitas perekonomian. Dalam kaitan ini, pentingnya saluran nilai tukar dalam transmisi kebijakan moneter terletak pada pengaruh aset finansial dalam valuta asing yang berasal dari hubungan kegiatan ekonomi suatu negara dengan negara lain. Pengaruhnya bukan saja terjadi pada perubahan nilai tukar, tetapi juga pada aliran dana yang masuk dan keluar suatu negara yang terjadi antara lain karena akti­vitas perdagangan antarnegara dan aliran modal investasi, seperti tercermin pada neraca pembayaran. Selanjutnya, perubahan nilai tukar dan aliran dana dari dan ke luar negeri akan memengaruhi kegiatan ekonomi rill di negara yang bersangkutan. Semakin terbuka perekonomian suatu negara yang disertai dengan sistem nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas, semakin besar pula pengaruh nilai tukar dan aliran dana luar negeri terhadap perekonomian dalam negeri.

5.     Saluran Harga Aset

Perubahan harga aset, baik aset finansial seperti obligasi dan saham maupun aset fisik seperti properti dan emas banyak dipenga­ruhi secara langsung oleh kebijakan moneter. Transmisi ini terjadi karena penanaman dana oleh para investor dalam portofolio inves­tasinya pada umumnya tidak saja berupa simpanan di bank dan instrumen lain di pasar uang, tetapi juga dalam bentuk obligasi clan saham, serta aset fisik. Perubahan suku bunga dan nilai tukar akan berpengaruh pada volume transaksi dan harga obligasi, saham, dan aset fisik tersebut. Selanjutnya, perubahan harga aset dimaksud pada gilirannya akan berdampak pada berbagai aktivitas di sektor riil, seperti permintaan terhadap konsumsi baik karena perubahan kekayaan yang dimiliki (wealth effect) maupun karena perubahan tingkat pendapatan yang dikonsumsi akibat perubahan hasil penanaman aset finansial dan aset fisik (substitution and income effect).

Selain itu, pengaruh harga aset terhadap sektor riil juga terjadi pada permintaan investasi oleh dunia usaha. Hal ini berkaitan dengan perubahan harga aset tersebut yang memberikan dampak terhadap biaya modal yang harus dikeluarkan dalam berproduksi dan ber­investasi, yang pada gilirannya akan memengaruhi permintaan agregat, output, dan inflasi.

6.     Saluran Ekspektasi

Dalam konteks kebijakan moneter, yang paling diperhatikan adalah ekspektasi inflasi oleh masyarakat. Teori ekspektasi berpendapat bahwa apabila masyarakat cukup rasional, mereka akan mengambil tindakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya inflasi. Tindakan tersebut adalah berupa pengurangan jumlah uang yang mereka pegang dengan membelanjakannya ke dalam bentuk barang-barang riil sehingga risiko kerugian memegang uang karena inflasi dapat dihindari.

Ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga pada gilirannya akan mendorong kenaikan tingkat suku bunga. Apabila suku bunga meningkat lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga, secara riil rate of return atas aset finansial menurun dan penurunan tersebut akan mendorong orang mengalihkan kekayaannya dari bentuk aset finansial ke bentuk aset riil.

Pasar uang di beberapa negara

 Pasar Uang di Beberapa Negara #materi04

Pasar uang tidak hanya terdapat di negera kita saja (Indonesia) tetapi juga di negara lainnya terdapat pasar uang. 

Berikut ini pembahasan mengenai pasar uang di beberapa negara. 


Pasar valuta asing  (foreign exchange market, forex) atau disingkat valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya (pasangan mata uang/pair) yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara berkesinambungan. 

Pergerakan pasar valuta asing berputar mulai dari pasar Selandia Baru dan Australia yang berlangsung pukul 05.00–14.00 WIB, lalu berlanjut ke pasar Asia yaitu Jepang, Singapura, dan Hongkong yang berlangsung pukul 07.00–16.00 WIB, ke pasar Eropa yaitu Jerman dan Inggris yang berlangsung pukul 13.00–22.00 WIB, sampai ke pasar Amerika Serikat  yang berlangsung pukul 20.30–10.30 WIB. Dalam perkembangan sejarahnya, bank sentral milik negara-negara dengan cadangan mata uang asing yang terbesar sekalipun dapat dikalahkan oleh kekuatan pasar valuta asing yang bebas.

Menurut survei BIS (Bank International for Settlement, bank sentral dunia), yang dilakukan pada akhir tahun 2004, nilai transaksi pasar valuta asing mencapai lebih dari USD$1,4 triliun per harinya.

Pada perdagangan valuta asing secara langsung (OTC, pialang dan pedagang melakukan negosiasi secara langsung tanpa melalui bursa atau kliring. Pusat perdagangan terbesar secara geografis berada di London, Inggris, di mana menurut data IFSL diperkirakan telah meningkat kontribusinya. 





Bentuk Pasar Uang Dan Pelaku Pasar Uang

Bentuk Pasar Uang dan Pelaku Pasar Uang #materi03

Kita tentunya sudah mengetahui apa yang dikatakan dengan pasar modal. Tapi tentu saja tidak hanya pengertian dari pasar modal saja yang perlu kita pahami. Karena masih banyak hal lainnya yang harus kita pahami dan pelajari mengenai pasar uang ini termasuk mempelajari dan memahami bagaimana bentuk pasar uang dan siapa saja pelaku dalam pasar uang tersebut. 

Oleh karena itu, disini saya ingin membahas. 


Adapun bentuk-bentuk dari pasar uang yaitu:

Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)

Adalah surat berharga yang diperjualbelikan dengan cara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga keuangan lain yang sudah ditunjuk BI.

1. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Adalah surat berharga dalam bentuk hutang yang berjangka pendek dan dikeluarkan pemerintah

2. Deposito

Adalah surat berharga yang dikeluarkan Bank terhadap simpanan nasabahnya yang periode sudah jatuh tempo di tingkat suku bunga tertentu.

3. Promissory Notes

Adalah surat pernyataan kesanggupan membayar atas transaksi hutang piutang yang berjangkan pendek antara kreditur dengan debitur.

4. Treasury Bills

Adalah surat hutang yang dikeluarkan negara yang mempunyai jangka waktu tidak lebih satu tahun.

5. Banker’s Acceptance

Adalah instrumen pasar uang yang bisa dipakai dalam kegiatan eksport dan import dan dalam aktivitas transaksi valuta asing.

6. Commercial Paper

Adalah surat utang yang dikeluarkan perusahaan untuk investor tanpa adanya jaminan (collateral), ini dipakai untuk membiayai kewajiban jangka pendeknya saja.

7. Call Money

Adalah instrumen pasar modal yang dipakai dalam aktivitas transaksi peminjaman sejumlah dana antar Bank dalam periode yang berjangka pendek.

Pelaku pasar keuangan adalah pihak-pihak yang membutuhkan dana atau modal maupun pihak-pihak yang menanamkan dana/investasi dalam pasar uang. Pelaku dalam pasar uang terdiri dari beberapa yaitu:

1. Bank Sentral (Bank Indonesia)

Bank Indonesia (bank sentral) sebagai pelaku utama dalam pasar uang adalah untuk menjaga kestabilan moneter dan harga melalui instrumen keuangan yang dikeluarkannya yakni Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

2. Lembaga-Lembaga Pemerintah

Lembaga-lembaga pemerintah memainkan peranannya dalam pasar uang sebagai pihak yang membutuhkan dana untuk membiayai proyek-proyek pemerintah dikarenakan adanya perbedaan waktu antara penerimaan pajak ataupun penerimaan lainnya dengan pengeluaran yang mesti dilakukan.

3. Perusahaan-Perusahaan Swasta, 

Perusahaan-perusahaan swasta mengambil peranan sebagai pihak yang menghimpun dana dari pasar uang dengan menerbitkan surat berharga jangka pendek.

4. Bank-bank Komersial

Bank-bank komersial sebagai pelaku pasar keuangan berperan sebagai dealer derivatif di luar bursa, lembaga perantara keuangan, dan untuk memenuhi ketentuan kewajiban giro minimum yang harus mereka pelihara pada bank sentral serta pemberi jasa pendapatan atas dasar fee.

5. Dealer

Dealers berperan sebagai perantara di antara pelaku dalam Pasar Repo, sedangkan broker sebagai pihak yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dengan peminjam dalam pasar uang. Lembaga keuangan lainnya, individu masyarakat, dan lembaga dana pensiun juga mempunyai peranan masing-masing dalam pasar uang.

Pasar Uang

 Pasar Uang#Materi02

Definisi Pasar Uang

Pasar uang adalah pasar tempat suatu pihak meminjam dana dari pihak lainnya pada tingkat bunga-bunga tertentu dan biasanya untuk
jangka waktu di bawah satu tahun.

Jangka waktu pinjaman bisa bervariasi, mulai dari satu hari sampai satu tahun. Pijaman yang
berjangka waktu lebih dari satu tahun digolongkan sebagai pasar hutang.
Dilihat dari jenis mata uangnya, pasar uang dapat dibagi menjadi; pasar domestik dan pasar valuta asing.

Pasar uang dikatakan efisien bila dapat melakukan transfer uang dari unit surplus ke unit defisit dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat serta biaya yang sangat rendah (Timothy Q.Cook dan Robert K.LaRoche, 1998).

     Fungsi Pasar Uang

Ada beberapa fungsi pasar uang yang penting dalam kegiatan ekonomi, yaitu fungsi likuiditas, fungsi sebagai sarana penyaluran kebijaksanaan (Channel for implementing policies), fungsi informasi,
accumulation of wealth, serta allocation of wealth (Direktorat Riset
Ekonomi dan Kebijakan Moneter, 2002).
Fungsi likuiditas pasar uang terkait dengan manfaat yang diberikannya kepada para investor dalam rangka mengelola dana
jangka pendek mereka yang idle dengan membeli piranti-piranti pasar uang, seperti certificate deposit, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan deposito berjangka pendek untuk memeperoleh pendapatan. Sementara itu, bagi pengusaha yang membutuhkan dana, pasar uang digunakan sebagai salah satu alternatif tempat untuk mencari sumber dana sementara. Misalnya, dalam hal terjadi mismatch temporer
karena portafolio asetnya berjangka panjang, sementara sisi liabilitiesnya relatif berjangka pendek untuk memperoleh pendapatan yang optimal.

Dalam rangka melaksanakan kebijakan moneter, Bank Sentral atau otoritas moneter antara lain menggunakan piranti operasi pasar terbuka (OPT). Kebijakan OPT dilakukan dengan melakukan penjualan atau pembelian, baik secara outright maupun repo, surat-surat
berharga Pemerintah atau surat-surat berharga yang diterbitkan oleh bank sentral ( sejenis SBI di Indonesia) di pasar uang guna mempengaruhi likuiditas perekonomian agar sesuai dengan
kebutuhan perekonomian. Perkembangan likuiditas dalam pasar uang lebih lanjut akan berdampak terhadap perkembangan suku bunga dan nilai tukar, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap aktivitas perekonomian secara makro.
Berkenaan dengan fungsi informasi perkembangan pasar uang dapat memberikan informasi bagi pelaku-pelaku di pasar uang seperti perusahaan, perbankan, pemerintah, otoritas moneter mengenai kondisi moneter, arah kebijakan, preferensi, dan tingkah laku peserta pasar uang maupun kondisi dan prospek ekonomi di dalam maupun di luar negeri.

      Risiko pasar uang

Pasar uang selain berpeluang menghasilkan keuntungan, juga mengandung kemungkinan timbulnya risiko yang harus ditanggung
investor baik risiko ekonomi maupun nonekonomi (Goeltom,2000).
Risiko ekonomi terdiri atas :
1) Risiko pasar (market risk, interest rate atau exchange rate risk)
yaitu risiko yang timbul akibat fluktuasi harga, suku bunga, dan pergerakan nilai tukar. 
2) Risiko penanaman kembali (reinvestment risk), yaitu risiko karena mengalihkan investasi. 
3) Risiko gagal bayar (default risk), yaitu risiko yang timbul karena pembayaran yang tidak terpenuhi pada saat tagihan jatuh tempo dan
4) Risiko fundamental (fundamental risk), yaitu risiko akibat perubahan kondisi makro-ekonomi, moneter, fiskal, dan kebijakan lainnya pemerintah.
Sementara itu, risiko nonekonomi antara lain dipengaruhi oleh situasi sosial, politik, dan bencana alam.

    Lokasi dan mekanisme pasar uang dalam era modern sekarang ini, transaksi-transaksi yang terjadi di pasar uang umumnya dilakukan secara langsung melalui media telephone electronic data link.
Transaksi-transaksi tersebut dinamakan
Over the Counter (OTC) transactions.
Pelaku-pelakunya dapat melakukan transaksi pada pasar di dalam negeri (domestik) atau luar
negeri yang tidak membutuhkan bentuk pasar yang riil. Transaksi pada pasar uang dapat dilakukan selama 24 jam di seluruh dunia sehingga memungkinkan pemilik dana menaruh modalnya pada pasar yang memberikan tingkat suku bunga yang tinggi. Sementara itu, peminjam dapat mencari pinjaman pada pasar yang menawarkan tingkat suku bunga yang termurah.
Seperti pengertian pasar lainnya, pasar uang adalah suatu pasar tempat terjadi pertemuan antara penjual dan pembeli yang kesepakatannya membentuk harga barang/jasa. Pada pasar uang, harga yang terbentuk dinamakan suku bunga.
Hukum permintaan dan penawaran juga berlaku di pasar ini.
Bila permintaan akan dana meningkat, maka suku bunga akan naik. Demikian sebaliknya, bila supply dana naik karena banyak orang menaruh dana di pasar uang, maka suku bunga akan turun.

Pasar Keuangan

       Pasar Keuangan#Materi01

Pasar keuangan (financial markets)
mempunyai peranan penting dalam meningkatkan efisiensi perekonomian melalui penyaluran dana dari pihak-pihak yang mempunyai surplus dana kepada pihak-pihak
yang membutuhkannya baik untuk kegiatan investasi maupun kegiatan ekonomi lainnya.
Tingkat kesejahteraan kedua pihak akan
meningkat dengan berfungsinya pasar keuangan.

Bagi pihak-pihak yang mempunyai surplus dana, pasar keuangan memberikan penghasilan, sedangkan pihak yang lain, misalnya pengusaha, akan memperoleh dana untuk memanfaatkan peluang dalam investasi
guna mendapatkan keuntungan.

Dengan perkataan lain, pasar keuangan menjadi suatu kebutuhan masyarakat karena adanya perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran dari pelaku-pelaku ekonomi di pasar uang, seperti bank-bank komersial, bank
sentral, pemerintah, perusahaan-perusahaan, money market mutual funds, brokers, dan dealers.

Aliran dana dari pihak yang mempunyai surplus dana kepada pihak yang membutuhkan dana dapat dengan secara langsung dan tidak langsung. Pembiayaan langsung terjadi bila peminjam mencari dana secara langsung ke pasar keuangan dengan menjual surat-surat
berharga.
Pembiayaan tidak langsung terjadi bila pemilik
surplus unit menaruh dana pada lembaga keuangan perantara (financial intermediaries) seperti bank, perusahaan asuransi, dan kemudian lembaga keuangan tersebut meminjamkannya pada unit yang membutuhkan. 

Secara garis besar pasar keuangan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
pasar modal dan pasar uang (money market). Pasar modal adalah pasar tempat diperdagangkan adalah surat-surat berharga yang berjangka waktu lebih dari satu tahun.
Sementara itu, di pasar uang surat-surat berharga yang diperdagangkan berjangka pendek di bawah satu tahun.
Dengan demikian, suatu surat berharga berjangka waktu lebih dari satu tahun, apabila ditransaksikan secara repo dengan jangka waktu yang kurang dari satu tahun, dikategorikan pula sebagai transaksi pasar uang.
Bagi otoritas moneter keberadaan pasar keuangan penting untuk mendapatkan informasi.
Sekurang-kurangnya ada tiga
informasi yang dapat dimanfaatkan dari pasar keuangan yang berkembang cepat dalam beberapa dekade terakhir (Welteke, 2001).
Pertama, memberikan informasi awal atas ekspektasi pasar terhadap perkembangan makro ekonomi; Perubahan struktur tingkat suku bunga terkait dengan arah pertumbuhan ekonomi ke depan.

Kedua, perkembangan dari expected volatility dari harga future financial markets memberikan sinyal tingkat ketidakpastian dalam perekonomian, meskipun sampai saat ini belum ada kesepakatan umum mengenai bagaimana membaca tingkat volatility secara pasti.

Ketiga, harga-harga di pasar keuangan memberikan indikator
terhadap ekspektasi dari pelaku-pelaku pasar, terkait dengan tindakan kebijakan moneter. 
Di samping itu, bagi bank sentral pasar uang merupakan media yang penting dalam mengimplementasikan kebijakan moneter baik
yang memilih strategi kuantitas (uang beredar) maupun harga (suku bunga) dalam rangka mencapai sasaran akhir bank sentral, yaitu
tingkat stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan penyerapan tenaga kerja.
Untuk mencapai sasaran-sasaran dimaksud, bank sentral berupaya mempegaruhi tingkat likuiditas perbankan serta suku bunga jangka pendek yang lebih lanjut berdampak pada aktivitas perekonomian secara makro.
Perkembangan pasar-pasar keuangan dalam beberapa dekade terakhir mengalami pertumbuhan yang pesat sejalan dengan arus
globalisasi dan semakin banyaknya produk-produk pasar keuangan
yang muncul.

Menurut Bank for International Settlement (BIS) pada akhir tahun 2003 volume transaksi pasar uang internasional diprakirakan telah mencapai lebih dari US$2,3 triliun per harinya.
Arus dana yang besar ini di satu sisi memberi manfaat bagi kegiatanekonomi, di sisi lain, bila tidak dikelola secara baik berpotensi
menimbulkan bencana karena dapat mengganggu stabilitas ekonomi
suatu negara bahkan stabilitas moneter internasional.

Sehubungan dengan pentingnya keterkaitan pasar keuangan dan khsususnya pasar uang dengan otoritas moneter maupun perekonomian, buku seri kebanksentralan kali ini mengulas secara sederhana aspek-aspek mengenai pasar uang, meliputi fungsi, ciri khas, mekanisme kerja, piranti, serta perkembangan pasar uang di beberapa negara dan Indonesia.

UAS PASAR UANG DAN MODAL SYARIAH

PASAR UANG DAN PASAR MODAL SYARIAH         Aspek ekonomi syariah tidak hanya pada sektor perbankan saja melainkan ada disemua sektor, di sem...